KATA SAMBUTAN BLOGGER TGL PEMBUATAN 01 MEI 2013

PERHATIAN BUAT TEMAN-TEMAN SEMUA YANG SELALU MENGUNJUNGI BLOGGER SAYA JIKA INGIN MAKALAHNYA LENGKAP DARI BAB I SAMPAI BAB III /IV SILAHKAN DI DOWNLOAD FILENYA , OK....

Tuesday, July 9, 2013

MAKALAH KURIKULUM BERUBAH LAGI

BAB I
KURIKULUM BERUBAH LAGI


Dulu setelah Cara Belajar Siswa Aktif atau CBSA diperkenalkan di sekolah, lalu muncul sindiran Cah bodho soyo akeh (anak bodoh kian banyak). Juga, saat Manajemen Berbasis Sekolah atau MBS dilansir, muncul olok-olok, masyarakat bayar sendiri. Kini, saat pemerintahan memperkenalkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP, para guru berseloroh.
Sekolah ini mempresentasikan kenyataan yang dihadapi guru di tingkat satuan pendidikan. Korban pertama KTSP adalah guru bidang studi. Mereka di kejar-kejar agar membuat sendiri kurikulum tiap mata pelajaran bagi sekolahnya. Banyak waktu habis untuk seminar dan pertemuan guru bidang studi demi merencanakan kurikulum seperti diharapkan KTSP.

A.           Tanpa Persiapan

Tugas membuat dan merencanakan kurikulum saat proses pendidikan sedang berjalan jelas membuat proses belajar mengajar terganggu. Konsentrasi pun hilang karena selalu berfikir membuat silabus, program indikator dan sebagainya. Jelas, KTSP menjadi beban baru dan diluncurkan tanpa persiapan memadai.
Kekurangan aplikasi KTSP terlihat nyata di tingkat SMP, khususnya terkait proses pemetaan materi pelajaran yang terintegrasi, seperti IPA dan IPS. Hal ini membuat guru pusing, mengingat standar isi materi IPA terpadu persi KTSP tersebar dari kelas satu sampai kelas tiga dalam buku versi Kurikulum Berbasis Komeptensi (KBK) 2004. Pemetaan materi antar kelas yang diintegrasikan akan mempengaruhi pengaturan, alokasi waktu mengajar dan kuantitas pekerjaan guru bidang studi.
Dari segi kompetisi, para guru merasa tidak siap selama ini mereka mampu satu mata pelajaran tertentu. Kini mereka harus mengajarkan semua. Guru IPA harus menguasai sekaligus Biologi, Kimia dan Fisika! Kuota empat jam pelajaran seminggu untuk mata pelajaran terpadu membuka peluang bagi beberapa guru bidang studi kehilangan pekerjaan !
Keputusan Departemen Pendidikan Nasional yang ngotot mengadakan Ujian Nasional (UN) tahun 2007 membuat pembaruan kurikulum lewat KTSP kian mandul dan menunjukkan ketidak seriusan pemerintah memperbaiki karut marut pendidikan kita.
Pertanyaan pokoknya, jika KTSP memberi keluasan bagi otonomi sekolah di tingkat satuan pendidikan, standar penilaian seharusnya juga menjadi hak otonom sekolah sebab merekalah yang menentukan indikator dan memilih proses serta materi melalui program belajar di kelas. Karena itu UN merupakan keputusan yang kontra produktif bagi peningkatan kualitas pembelajaran.
Ingat, saat pemerintah menerapkan KBK, para guru kedodoran menyiapkan materi UN bagi siswa sebab Depdiknas memberikan kisi-kisi UN sekitar dua bulan sebelumnya.
Dampak negatif UN lainnya adalah UN akan membuat tiap sekolah lebih konsentrasi memperdalam mata pelajaran yang diujian nasionalkan dari pada membuat anak didik cerdas dan mampu berfikir kreatif berhadapan dengan materi pembelajaran yang diterimanya.
Mengingat tiadanya persiapan teknis, kekeliruan prosedur, kesalahan pedagogis, dan inkonsistensi struktural UN, maka UN 2007 tidak akan mampu menaikkan kualitas pendidikan nasional. UN tak lebih sebagai proyek yang kental muatan politiknya dari pada edukatif dan pemborosan anggaran negara.


No comments:

Post a Comment