KATA SAMBUTAN BLOGGER TGL PEMBUATAN 01 MEI 2013

PERHATIAN BUAT TEMAN-TEMAN SEMUA YANG SELALU MENGUNJUNGI BLOGGER SAYA JIKA INGIN MAKALAHNYA LENGKAP DARI BAB I SAMPAI BAB III /IV SILAHKAN DI DOWNLOAD FILENYA , OK....
Showing posts with label Ekonomi Pemasaran. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi Pemasaran. Show all posts

Saturday, July 13, 2013

PENGARUH VARIABEL-VARIABEL MAKRO EKONOMI TERHADAP OMZET PENJUALAN di TOKO SAKINAH PAITON PROBOLINGGO



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.        LATAR BELAKANG
Krisis ekonomi global  telah terjebak pada sistem kapitalisme internasional sehingga sampai saat ini sepertinya tak ada persiapan jelas menghadapi krisis keuangan global yang berawal dari runtuhnya industri keuangan di Amerika Serikat. Menurut Kaminsky, dkk. (1998) dalam Prasetyantoko (2008:13) Krisis adalah sebuah situasi di mana serangan pada sistem nilai tukar menyebabkan depresiasi tajam pada nilai tukar itu, atau juga bisa mengakibatkan penurunan drastis dalam cadangan devisa asing (international reserves). Menghadapi krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) pada saat ini, manajemen dalam membuat keputusan harus mampu menyatukan dan mengembangkan berbagai elemen yang relevan ke dalam situasi total perusahaan. Di sisi lain perusahaan dituntut mengantisipasi dampak krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) yang menyerang seluruh Negara didunia ini, baik Negara berkembang maupun Negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia.
1
 
Krisis pasar finansial yang menimpa perekonomian Amerika Serikat (AS) yang menyeruak kepermukaan sejak Agustus 2007, krisis yang dipicu oleh masalah surat utang berbasis perumahan berkualitas rendah (subprime mortgage) tersebut, bukanlah sesuatu yang baru (Prasetyantoko, 2008:2). Dan meskipun kejadian tersebut menimpa perekonomian Amerika Serikat (AS), namun kejadian tersebut mempengaruhi ritme perekonomian dunia yang melambat serta dikenal sebagai masa serba sulit (malaise). Masa-masa sulit tersebut ditandai dengan terjadinya depresiasi nilai tukar mata uang Indonesia (Rupiah) terhadap mata mata uang Amerika Serikat (Dollar AS), melonjaknya harga minyak dunia, tingginya harga pangan, dan lain sebagainya. Krisis sebagai sebuah situasi di mana serangan pada sistem nilai tukar menyebabkan depresiasi tajam pada nilai tukar itu, atau juga bisa mengabikatkan penurunan drastis dalam cadangan devisa asing (international reserves) (Kaminsky, dkk., 1998 dalam Prasetyantoko, 2008:13).
Nilai tukar rupiah terkoreksi tajam pada akhir Desember 2008 yaitu pada level Rp 10.900/USD. Kondisi ini sejalan dengan kinerja neraca pembayaran yang menunjukkan penurunan sejak Triwulan III-2008, sebagaimana tercermin dari peningkatan defisit transaksi berjalan  (current account) dan mulai defisitnya neraca transaksi modal dan finansial (financial account). Peningkatan defisit transaksi  berjalan terutama bersumber dari anjloknya kinerja ekspor sejalan dengan kontraksi perekonomian global yang diiringi dengan merosotnya harga berbagai komoditas ekspor. Sementara, kesulitan likuiditas keuangan global dan meningkatnya perilaku risk aversion dari pemodal asing memicu terjadinya realokasi ke aset yang lebih aman (flight to quality) juga berdampak pada menurunnya kinerja neraca transaksi modal dan finansial. Menyusul tertekannya kinerja ekspor secara signifikan, dunia usaha pun mulai terkena imbas dan gelombang pemutusan hubungan kerja mulai terjadi, khususnya di industri-industri berorientasi ekspor seperti industri kayu, tekstil, dan pengalengan ikan (www.bi.go.id/../Bab3KrisisEkonomiGlobaldanDampaknyaterhadapPerekon.pdf 22 Juli 2009). Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Frankel dan Rose (1996) dalam Prasetyantoko (2008:13) mengatakan krisis nilai tukar didefinisikan sebagai perubahan besar pada beberapa indikator pada nilai aktual atau potensial dari sebuah mata uang. Selain itu, harga minyak terus menerus mencetak rekor tertinggi, yaitu menyentuh harga 100-110 dollar AS/barrel, bahkan mencapai 145 dollar AS/barrel pada minggu pertama bulan juli 2008 (Prasetyantoko, 2008:177). 
   Krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) kini mulai dirasakan pengusaha tesktil dan produk tekstil (TPT). Termasuk Toko Sakinah Paiton Probolinggo, toko yang bergerak dalam bidang industri tekstil (pakaian) yang terpadu. Tidak bisa dipungkiri, krisis ekonomi keuangan global yang bersumber dari sistem ekonomi kapitalis di Amerika ini juga berdampak langsung kepada perekonomian Indonesia, tidak luput juga di industri tekstil (Jaka Sriyana, 2009). Ini terlihat dari ekspornya yang mulai melambat, yakni hanya tumbuh 5,6% dari 1,237 miliar dollar AS menjadi 1,312 miliar dollar AS pada semester pertama 2008. Hal ini menunjukkan bahwasanya melambatnya pertumbuhan ekspor komoditas ini semakin terasa terhadap pasar Amerika Serikat. Sepanjang semester pertama ini, secara nilai ekspor ke AS  hanya naik tipis, yakni 0,75% dari periode yang sama dua tahun lalu. Dari nilainya 530,171 juta dollar AS di periode yang sama tahun 2007, dan hanya mencapai 534.169.438 dollar AS untuk 2008 (Puspita Handayani, 2008). Dengan demikian, kenaikan omzet penjualan ekspor yang semakin melambat dari semester pertama tahun 2008 dibandingkan semerter pertama tahun 2007 yaitu sebesar 0,75%.
Perkembangan tesktil dan produk tekstil (TPT) dewasa ini sangatlah komplek dan selalu mengalami berbagai perubahan yang sangat cepat, akibat krisis subprime mortgage yang menimpa Amerika Serikat (AS). Perubahan-perubahan yang cepat tersebut, turut berpengaruh terhadap strategi pemasaran yang diambil oleh perusahaan tekstil di seluruh Indonesia, sebab kadang strategi pemasaran yang digunakan hari ini tidak tepat lagi untuk digunakan dihari esok.
Salah satu unsur dalam strategi pemasaran adalah bauran pemasaran, merupakan strategi yang dijalankan perusahaan, yang berkaitan dengan penentuan bagaimana penrusahaan menyajikan penawaran dan perencanaan produk atau jasa, penentuan harga, media promosi, dan distribusi pada pada segmen pasar tertentu, yang merupakan pasar sasarannya. Bauran pemasaran merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari dari sistem pemsaran, variabel mana dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan konsumen dalam pasar sasaran. Variabel atau kegiatan tersebut perlu dikombinasikan dan dikoordinasikan oleh perusahaan secara efektif mungkin dalam melakukan kegiatan pemasaran. Dengan demikian perusahaan tidak hanya sekedar memiliki kombinasi kegiatan yang terbaik saja, akan tetapi dapat mengkoordinasikan berbagai variabel bauran pemasaran tersebut, untuk melaksanakan program pemasaran secara efektif.
Secara defisional, pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi, dan distribusi sejumlah ide, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi (Lamb, dkk., 2001:6). Selain itu pemasaran juga dapat diartikan sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi, dan distribusi gagasan, barang, dan jasa dalam rangka memuaskan tujuan individu dan organisasi. Konsep diatas secara emplementatif, dikenal dengan istilah bauran pemasaran (Candra, 2005:1).
Fokus utama dari strategi pemasaran adalah mengalokasikan dan mengkoordinasi sumber daya dalam kegiatan pemasaran untuk mencapai tujuan perusahaan di dalam produk pasar spesifik (Boyd, dkk., 2000:30-31). Oleh karena itu, isu penting dari ruang lingkup strategi pemasaran termasuk menspesifikasi pasar sasaran untuk produk atau lini produk tertentu. Kemudian perusahaan mencari keunggulan kompetitif dan sinergi melalui program unsur-unsur bauran pemasaran yang terintegrasi dengan baik (terutama pemasaran, yaitu : produk, harga, saluran distribusi, dan promosi) yang dirancang untuk kebutuhan dan keinginan pelanggan potensial di dalam pasar sasaran.
Dalam perspektif penelitian ini, setiap variabel krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) yaitu : Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS, naiknya Harga Minyak, dan Harga Emas mempengaruhi strategi pemasaran melalui salah satu pemahaman dari peranan setiap komponen bauran pemasarannya adalah sejauh mana kontribusi setiap komponen dalam meningkatkan volume penjualan. Sehingga, untuk dapat mendorong meningkatnya volume penjualan sesuai dengan yang direncanakan dalam menghadapi krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) sekarang, maka bauran pemasaran merupakan salah satu cara yang ditempuh sebagai alat pencapaian tujuan tersebut.
Dengan melaksanakan bauran pemasaran yang efektif dan efisien, diharapkan perusahaan mampu mengkomunikasikan produk kepada pasar sasaran, memberi informasi tetang keistimewaan, kegunaan, dan yang penting adalah tentang keberadaannya dalam mengubah sikap ataupun untuk mendorong orang untuk bertindak (membeli), yang pada akhirnya akan menguntungkan bagi perusahaan yang terindikasi dari meningkatnya volume penjualan.
Berdasarkan pada alasan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Variabel-Variabel Makro Ekonomi Terhadap Omzet Penjualan di Toko Sakinah Paiton Probolinggo”.

1.2.        RUMUSAN MASALAH
1.        Apakah variabel-variabel makro ekonomi berpengaruh secara simultan terhadap omzet penjualan Toko Sakinah Paiton Probolinggo?
2.        Apakah variabel-variabel makro ekonomi berpengaruh secara parsial terhadap omzet penjualan Toko Sakinah Paiton Probolinggo?

1.3.        TUJUAN PENELITIAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN
1.3.1.      Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui apakah variabel-variabel makro ekonomi berpengaruh secara simultan terhadap omzet penjualan Toko Sakinah Paiton Probolinggo.
2.      Untuk mengetahui apakah variabel-variabel makro ekonomi berpengaruh secara parsial terhadap omzet penjualan Toko Sakinah Paiton Probolinggo?


1.3.2.      Kegunaan Penelitian
1.      Bagi lembaga, untuk mengetahui dan menilai kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu teori yang di dapat di bangku perkuliahan melalui praktek di lapangan dalam bentuk penelitian.
2.      Bagi pelaku bisnis, diharapkan penelitian dan penulisan dapat digunakan untuk mengevaluasi efektifitas dari strategi yang telah dijalankan selama ini dan juga memberikan alternatif strategi yang dapat digunakan oleh perusahaan.
3.      Bagi mahasiswa, diharapkan penelitian dan penulisan dapat dijadikan sarana untuk mengaplikasikan pengetahuan teoritis yang didapat pada saat perkuliahan kedalam praktek nyata.
4.      Bagi pihak lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan dapat juga digunakan sebagai pembanding untuk penelitian yang akan datang.  



 

PENGARUH PERILAKU KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN BERWISATA



BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Dalam kondisi perekonomian Indonesia yang semakin sulit seperti ini, ditambah lagi jumlah pengangguran yang semakin bertambah, yang sangat menyulitkan masyarakat luas, sehingga sulit untuk mencari lapangan pekerjaan dan mempertahankan eksistensi perusahaan dalam mencapai tujuan. Dengan kondisi diatas sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya.
Untuk itu perusahaan dalam memasarkan barang dan jasanya agar dapat diterima sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, dibutuhkan suatu pendekatan terhadap analisa perilaku konsumen adalah elemen dalam strategi pemasaran. Dengan memahami perilaku konsumen, pemasar dapat menganalisis persaingan dan menyesuaikan strategi pemasaran dengan yang dipikirkan dan dirasakan oleh konsumen tentang produk serta jasa untuk diarahkan sesuai dengan harapan pemasar (Kotler 2002: 182).




Konsumen mempunyai banyak sekali kebutuhan demi mempertahankan hidupnya. Adapun kebutuhan itu diantaranya kebutuhan dalam mengkonsumsi barang dan jasa maupun kebutuhan dalam berwisata. Dimana kebutuhan merupakan fundamental yang mendasari perilaku konsumen dari kebutuhan tersebut maka konsumen akan memotivasi dirinya untuk memenuhi kebutuhannya itu (Mangkunegara, 2005:6).
Karena mengingat konsumen selalu berinteraksi dengan lingkungannya, maka secara otomatis perilaku itu akan berubah-ubah bahkan dalam hitungan hari. Untuk itu konsumen dalam memenuhi kebutuhannya banyak dipengaruhi adanya perbedaan sikap dan tingkah laku keseharian.
Adapun dalam perilakunya konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis (Kotler, 2002:183-200).
Keterkaitan antara hal-hal yang dipengaruhi dalam sikap dan tingkah laku konsumen berdampak pada semakin hati-hatinya konsumen dalam mengambil suatu keputusan. Keputusan terkait dalam berkonsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat memerlukan suatu keputusan yang dapat menjadikan mereka tetap berminat untuk berwisata.

Tanpa disadari ternyata proses pengambilan keputusan itu berjalan sedemikian rupa. Karena pengambilan keputusan konsumen merupakan suatu proses dimana konsumen melakukan penilaian terhadap berbagai alternatif pilihan, dan memilih salah satu atau lebih alternatif yang diperlukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu (Amirullah,2002:61-62).
Faktor terpenting dalam proses pengambilan keputusan adalam problema yang harus dihadapi. Dalam kehidupan diperlukan kemampuan utuk melihat, mengenal dan mengintegrasikan problema. Untuk meraih keberhasilan, pemasar harus melihat lebih jauh dari macam-macam faktor yang mempengaruhi pembelian dan mengembangkan pemahaman mengenai bagaimana konsumen melakukan keputusan berwisata.
Di Indonesia potensi untuk mengembangkan pariwisata tidak terbatas. Salah satu upaya pemerintah untuk mendapatkan devisa dalam pembangunan adalah mengalakkan sektor pariwisata. Untuk itu banyak obyek pariwisata di setiap kota terus membenai obyek wisata di Daerah masing-masing untuk mengatasi ketertinggalan, dan semua Daerah saat ini harus berusaha menarik investor dan wisatawan agar obyek wisata yang sudah ada bisa di kembangkan (Ketua Asosiasi biro perjalanan dan wisata Jawa Timur).
Karena pariwisata termasuk prioritas alokasi anggaran tertinggi dan diharuskan untuk menghasilkan banyak devisa. Devisa banyak diperlukan negara untuk menggiatkan pembangunan negara yang semakin meningkat (Hadinoto, 1996:7). Semakin meningkatnya jumlah Wisatawan yang berkunjung ke Jatim, maka semakin meningkat pula jumlah devisa yang diperoleh oleh Pemerintah terbukti dengan tabel sebagai berikut:
Tabel 1.1
Kunjungan Wisatawan Ke Jatim Melalui Bandara Udara Juanda
Dan Devisa Dari Sektor Pariwisata Tahun 2004-2005

No.
Tahun
WISMAN
WISNUS
Jumlah Devisa Dari Sektor Pariwisata
1.
2004
83.679
21.276.893
86.25 Juta Dollar AS
2.
2005
87.271
22.000.000
97.59 Juta Dollar AS
      Sumber: Dinas Pariwisata Jatim

Berdasarkan tabel diatas baik jumlah Wisatawan Mancanegara maupun Wisatawan Nusantara yang berkunjung ke Indonesia mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2004 Wisatawan Mancanegara berjumlah 83.679 Wisatawan, sedangkan pada tahun 2005 jumlah Wisatawan Mancanegara meningkat jumlahnya sebesar 87.271 Wisatawan. Adapun untuk Wisatawan Nusantara pada tahun 2004 mencapai 21.276.893 Wisatawan, sedangkan pada tahun 2005 meningkat menjadi 22.000.000 Wisatawan. Begitu juga devisa dari sektor periwisata tahun 2004 mencapai 86,25 juta dollar AS dan tahun 2005 meningkat menjadi 97,59 juta dollar AS.