KATA SAMBUTAN BLOGGER TGL PEMBUATAN 01 MEI 2013

PERHATIAN BUAT TEMAN-TEMAN SEMUA YANG SELALU MENGUNJUNGI BLOGGER SAYA JIKA INGIN MAKALAHNYA LENGKAP DARI BAB I SAMPAI BAB III /IV SILAHKAN DI DOWNLOAD FILENYA , OK....
Showing posts with label KOMUNIKASI. Show all posts
Showing posts with label KOMUNIKASI. Show all posts

Monday, July 1, 2013

MAKALAH MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU, MAKHLUK SOSIAL dan MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Setiap manusia lahir ke dunia dengan membawa potensi masing-masing yang dapat di kembangkan melalui proses belajar maupun pendidikan. Oleh karena itu manusia lahir sebagai makhluk individu, memiliki perbedaan yang khas dengan dengan manusia lain. (Sapriya, 2006).
Selanjutnya hidup bermasyarakat ditandai saling gotong-royong da tolong-menolong di antara sesama warganya.kedua tindakan tersebut amat penting bagi tercapainya tujuan bersama, yakni keamanan, kenyamanan, dan kesahteraan. Gotong-royong dan tolong-menolong hanya mungkin tercapai kalau terjalin tenggang rasa di antara sesama warga (Guru, 2003).
Aris tolteles berpendapat bahwa manusia merupakan perjumlahan daripada beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja tersendiri serperti kemampuan-kemampuan vegetative yaitu makan dan berkembangbiak, kemampuan sensitive, yaitu kemampuan bergerak mengamat-amati, bernafsu dan berperasaan, dan kemapuan intelektif, yaitu berkemampuan berkecerdasan. (Udin S. Winataputra, Materi dan Pembelajaran PKn SD, 2007).
Berangkat dari uraian di atas, kajian makalah ini mengungkapkan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan masyarakat.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang telah penyusun kemukakan diatas, maka penyusun mengidentifikasikan beberapa pertanyaan, ialah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian dari  individu, sosial dan masyarakat ?
2.      Apakah individu sebagai insan Tuhan Yang Maha Esa ?
3.      Bagaimana interaksi individu dan masyarakat ?
4.      Apa yang dimaksud dengan interaksi sosial dan sosialisasi ?
5.      Apa saja aspek-aspek perubahan sosial ?

C.     Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.         Sebagai bentuk tanggung jawab dalam memenuhi tugas Mata Kuliah Dasar Teknologi  Informasi dan Komunikasi
2.         Mengetahui pengertian individu, individu sebagai makhluk social dan masyarakat
3.         Mengetahui pengertian individu sebagai insan Tuhan Yang Maha Esa
4.         Mengetahui interaksi individu dan masyarakat
5.         Mengetahui pengertian interaksi sscial dan sosialisasi
6.         Mengetahui aspek-aspek perubahan sosial

D.    Prosedur Pemecahan Masalah

Makalah ini mengungkapkan tentang manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan masyarakat yang sejatinya sebagai manusia untuk dapat berinteraksi dengan baik sesama individu dan sebagai insan Tuhan. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode deskriptif yakni metode yang mempunyai tujuan pemecahan masalah yang sedang berlangsung. (Sapriya, 2006)

E.     Sistematika Penulisan


Makalah ini terdiri dari tiga bab, diawali bab I pendahuluan dan diakhiri dengan bab III kesimpulan.
            Bab I Pendahuluan meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika penulisan.
            Bab II Pembahasan berisikan mengenai manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan masyarakat.

            Bab III Penutup merupakan bab terakhir berisikan : kesimpulan.

MAKALAH PERAN PERS DAN MEDIA TERHADAP PEMBENTUKAN OPINI PUBLIK DALAM RUANG SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Berbicara mengenai komunikasi berarti berbicara mengenai media. Media kini sudah menjadi bagian dari hidup manusia yang sudah tidak dapat terpisahkan. Sejak kecil, seorang anak sudah dikenalkan dengan media sebagai bentuk sosialisasi. Setiap hari dan setiap saat kitas selalu berhubungan dengan media. Salah satu bentuk media yang paling dekat dengan hidup masyarakat adalah media massa. Media massa, sesuai namanya, dapat diartikan sebagai media penghubung atau media komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat. Masyarakat memperoleh segala macam pengetahuan mengenai berita dan informasi yang terjadi setiap hari melalui berbagai jenis media, baik cetak maupun elektronik, yang dibuat oleh para jurnalis. Sebagi pers, jurnalis sangat berperan penting dalam menentukan isi media. Isi media sangat berpengaruh pada sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat. Salah satu bentuk nyata dari pengaruh media terhadap masyarakat adalah munculnya pendapat umum atau opini publik di tengah masyarakat. Opini publik yang muncul akibat dari pemberitaan kasus atau isu-isu tertentu di media massa menggiring khalayak dalam bersikap dan berpikir. Pada akhirnya, dari pers, media, dan publik yang kemudian membentuk suatu opini publik terhadap suatu hal akan menghasilkan sebuah lingkaran sistem komunikasi yang menunujukkan bahwa setiap unsur dalam sistem tersebut saling terkait satu sama lain dan suatu hal yang dihasilkan oleh salah satu unsur akan menyebabkan adanya tanggapan atau feedback dari unsur yang lain.
Sebagai contoh, salah satu isu yang sempat menjadi berita hangat di tanah air dan  menggiring opini publik adalah berita perseteruan antara KPK dengan Polri yang sangat jelas memberi berdampak luar biasa bagi masyarakat. Hal ini bukan saja karena melibatkan dua institusi yang seharusnya memberikan contoh penegakan hukum, tetapi juga karena kasus ini sudah mengarah pada gengsi antar lembaga. Polisi merasa gengsi dan harus membela diri karena (merasa) dipojokkan, sementara itu KPK bisa menjadi besar kepala karena merasa didukung oleh semua elemen masyarakat. Namun, perseteruan ini masih menyisakan persoalan karena semakin membuat rumit opini yang berkembang di masyarakat. Pihak kepolisian membela diri, sementara KPK juga tidak jauh berbeda. Masyarakat yang tidak kritis tentu akan menerima begitu saja berita-berita yang berasal dari media massa. Akibatnya maka muncullah opini publik di tengah masyarakat mengenai Polri dan KPK. Ketika masyarakat ternyata lebih berpihak pada KPK maka media pun semakin mengagendakan bahwa masyarakat memang harus mendukung KPK, dengan  kata lain, media menggiring opini publik agar opini tersebut semakin kuat.
Selain itu, sebagai suatu sistem komunikasi, antara pers dengan media dan keterkaitan keduanya terhadap timbulnya opini publik, keduanya sudah seharusnya berkewajiban dalam memberikan informasi dan berita yang bertanggung jawab, khususnya bila berita tersebut memang dimaksudkan untuk menggiring opini publik maka baik pers maupun media harus benar-benar obyektif dalam membuat pemberitaan dan tanpa adanya bias sedikit pun. Karena terkadang dengan adanya bias tertentu membuat berita menjadi tidak obyektif dan bila diberikan kepada masyarakat yang kurang kritis dalam menanggapi berita maka akan berita tersebut akan dianggap sebagai sesuatu yang benar sesuai dengan kacamata media dan pers yang menulis berita.
Saat ini pembahasan mengenai opini publik menjadi semakin menarik karena melibatkan banyak unsur dan elemen, serta berbagai macam faktor yang mendukung. Seperti halnya kasus “Cicak vs. Buaya” yang kemudian berhasil membawa opini publik untuk mendukung KPK, di Indonesia, peran pers dan media sangat mempengaruhi arah pandang masyarakat terhadap suatu isu atau kasus tertentu. Oleh karena itu, berdasarkan uraian hal-hal tersebut, penulis membuat sebuah pengamatan kepada masalah ini, yaitu pengaruh yang dihasilkan oleh media terhadap munculnya opini publik dengan harapan dapat menambah pengetahuan mengenai seluk-beluk pers dan media baik untuk diri penulis sendiri maupun untuk orang banyak. Oleh karena itu, penulis memberi judul makalah ini “Peran Pers dan Media Terhadap Pembentukan Opini Publik dalam Ruang Sistem Komunikasi Indonesia”.

1.2. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah dengan judul “Peran Pers dan Media Terhadap Pembentukan Opini Publik dalam Ruang Sistem Komunikasi Indonesia” ini adalah untuk mengulas lebih dalam mengenai pengaruh yang dihasilkan oleh pers dan media massa terhadap pembentukan opini publik atau pendapat umum di tengah masyarakat di lihat dalam ruang lingkup sistem komunikasi Indonesia, serta untuk memenuhi Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Pengantar Jurnalisme Semester Ganjil tahun 2009, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

MAKALAH PERAN KOMUNIKASI DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Masyarakat pesisir memiliki kehidupan yang khas, dihadapkan langsung  pada kondisi ekosistem yang keras, dan sumber kehidupan yang bergantung pada pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut (selanjutnya disingkat SDP).  Masyarakat pesisir terutama nelayan kecil, masih terbelit oleh persoalan kemiskinan dan keterbelakangan.  Terdapat persoalan tertentu terkait dengan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi, sehingga masyarakat pesisir masih tertinggal (Hanson 1984).    Rendahnya taraf hidup masyarakat pesisir dan akses yang terbatas akan aset dan sumber-sumber pembiayaan bagi nelayan kecil merupakan persoalan utama yang dijumpai di kawasan pesisir.  Nelayanpun sangat rentan terhadap tekanan pemilik modal. 
Kegiatan pembangunan di kawasan pesisir tidak terlepas dari daya dukung lingkungan, keberlangsungan sumber daya alam dan dilakukan secara terpadu oleh berbagai pihak terkait dengan menekankan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.  Ketersediaan sumber daya alam di daratan seperti hutan, bahan tambang, dan mineral serta lahan pertanian produktif semakin menipis sedangkan kebutuhan penduduk terus bertambah sejalan dengan jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat dan diprediksikan akan mencapai 267 juta jiwa pada tahun 2015.  Kebutuhan penduduk tersebut tidak akan mampu dipenuhi seluruhnya oleh sumber daya alam di daratan (Dahuri 2000) mengingat luas daratan Indonesia hanya sepertiga dari luas Indonesia keseluruhan, yaitu 1.926.337 km2.  Sektor perikanan dan kelautan sangat potensial untuk dikembangkan, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 17.506 buah pulau, dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, dan luas laut sekitar 3,1 juta km2.  Selain itu, Indonesia juga memiliki hak pengelolaan sumber daya alam hayati dan nonhayati di perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), yaitu perairan yang berada 12 hingga 200 mil dari garis pantai titik-titik terluar kepulauan Indonesia, yang luasnya 2.7 juta km2 berdasarkan United Convention on the Law of the Seas. 
Kegiatan sektor perikanan dan kelautan, memiliki dua bidang usaha (Amanah dan Yulianto 2002) yaitu perikanan darat dan perikanan tangkap.  Hasil penelitian tentang pendekatan penyuluhan pada masyarakat pesisir (Amanah et al.. 2004) memperlihatkan bahwa setiap komunitas memiliki keunikan dan berbeda dalam hal nilai, orientasi, dan kebutuhan pengembangan diri, kelompok, komunitas, serta daya dukung lingkungan fisik.  Dalam hal ini komunikasi pembangunan dapat menjadi wahana transformasi situasi masyarakat dari sekarang ke kondisi yang lebih baik. 
Kabupaten Buleleng memiliki panjang pantai sekitar 144 km dan ada enam dari sembilan kecamatannya yang berbatasan langsung dengan pantai utara. Kecamatan Buleleng dan Grokgak sangat berprospek untuk berkembang menjadi kawasan perikanan dan wisata bahari.  Sampai saat ini masyarakat pesisir di kedua kecamatan tersebut bergantung pada pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut, baik untuk usaha perikanan, maupun untuk usaha jasa wisata.  Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah bahwa proses-proses komunikasi pembangunan belum berlangsung simultan, dan nelayan masih dihadapkan pada persoalan klasik seperti hasil tangkapan yang bervariasi, keterbatasan akses pada sumber-sumber permodalan, pasar, dan program penyuluhan yang belum berjalan sesuai harapan.  Telaahan tentang permasalahan yang dihadapi nelayan, penyebab masalah, alternatif penyelesaian masalah, diperlukan untuk mendesain rancangan strategi komunikasi pembangunan yang relevan.  Tanpa strategi komunikasi pembangunan yang jitu, masyarakat pesisir akan makin tertinggal.  Terdapat beberapa program andalan pemerintah dalam konteks komunikasi pembangunan, namun belum memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisir.  Oleh karenanya, penyajian pada makalah ini berfokus pada kondisi masyarakat pesisir dan peran komunikasi pembangunan dalam  pemberdayaan komunitas, kasus Kabupaten Buleleng.

Tujuan
                Tujuan makalah ini adalah (1) mendeskripsikan kondisi dan permasalahan yang dihadapi masyarakat pesisir, khususnya komunitas nelayan; dan (2)  menganalisis peran dan strategi alternatif komunikasi pembangunan dalam pemberdayaan masyarakat pesisir. 

Kegunaan
                Bagi pengambil kebijakan di bidang pengembangan masyarakat pesisir, diharapkan makalah ini dapat berkontribusi sebagai referensi dalam mengembangkan masyarakat pesisir melalui pendekatan dan strategi komunikasi yang efektif. 

PERUMUSAN MASALAH

Masalah merupakan faktor yang dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan.  Dalam konteks masyarakat pesisir di lokasi kajian, ada kesenjangan antara kondisi saat ini dan kondisi ideal yang diharapkan (Gambar 1).  Secara konseptual, komunikasi pembangunan berperan menjembatani kondisi saat ini menuju kondisi yang diharapkan terrwujud di tingkat komunitas pesisir.

MAKALAH KOMUNIKASI PADA ANAK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sebagaimana dapat dilihat,kelangsungan hidup anak membutuhkan kerja sama antar individu dalam berbagai tingkat struktur sosial, kelurga, komunitas ban system kesehatan untuk mengubah praktik – praktik mereka yang berkaitan dengan kesehatan anak. agar memiliki dampak,maka praktik – praktik ini perlu dilakukan dengan benar dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini karena, setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi kelebihan dan kekurangan. Ia adalah sosok pribadi mandiri dengan warna potensi khas dari mereka sendiri.
Oleh sebab itu, dalam proses berkomunikasi dengan anak harus memperhatikan prinsip, strategi dan hambatan dalam berkomunikasi.
Dari uraian tersebut diatas penulis membuat makalah dengan judul “Komunikasi pada anak “.
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1     Apakah yang dimaksud dengan komunikasi pada anak?
1.2.2     Apakah prinsip komunikasi pada anak?
1.2.3     Bagaimanakah strategi atau tehnik dalam berkomunikasi pada anak?
1.2.4     Apa saja hambatan yang terjadi pada saat berkomunikasi pada anak?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian tentang komunikasi pada anak.
1.3.2 Mengetahui prinsip-prinsip komunikasi dengan anak.
1.3.3 Mengetahui strategi dalam berkomunikasi pada anak.
1.3.4 Mendapatkan informasi tentang hambatan yang terjadi pada saat berkomunikasi pada anak.
BAB II
KONSEP DASAR

2.1 Definisi
Komunikasi adalah kontak atau hubungan atau penyampaian berita atau penerimaan berita yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang memungkinkan pesan atau berita itu bias diterima atau dipahami. (Kamus penerbit Gita Media Press. Kenangan dari TIM PRIMA PENA). Komunikasi terapeutik adalah hubungan interpersonal perawat-klien (anak) merupakan proses belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien. ( Stuart G. W. 1998). Secara umum komunikasi kesehatan merupakan upaya sistematis yang secara positif mempengarui praktek-praktek kesehatan populasi besar. Sasaran utama komunikasi kesehatan adalah melakukan perbaikan kesehatan yang berkaitan dengan praktek dan pada gilirannya status kesehatan. Komunikasi kesehatan yang efektif merupakan suatu kombinasi antara seni dan ilmu.

Pendekatan komunikasi kesehatan diturunkan dari disiplin ilmu meliputi pemasaran sosial, antropologi, analisis perilaku, periklanan, komunikasi pendidikan, serta ilmu-ilmu sosial yang lain. Hal ini saling melengkapi, saling tukar menukar prinsip dan tehnik umum satu sama lain sehingga masing-masing memberikan sumbangan yang unik bagi metodelogi komunikasi kesehatan.


DOWNLOAD FILE 

Makalah Komunikasi Organisasi

BAB I
PENDAHULUAN
Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang hidup bersama dengan manusia lain secara berkelompok, bersama-sama sukunya, bersama-sama dalam suatu daerah, berbangsa dan bernegara. Dan hidup bersama-sama dengan orang lain itu timbul komunikasi. Dalam kehidupan modern seperti sekarang komunikasi memegang peran yang sangat penting, karena justru dari cara komunikasi yang digunakan, maka orang dapat sukses, tetapi dari cara komunikasinya pula orang dapat gagal dalam mencapai tujuannya. Bagaimana kita berkomunikasi dalam kehidupan bersama itu-lah yang menjadi salah satu faktor yang sangat penting di dalam kehidupan bersama, baik di dalam organisasi ataupun kelompok.[1]
Firman Allah dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 13 yang berbunyi:
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.[2]
            Mengapa komunikasi penting dalam suatu organisasi? Pertanyaan ini kerap dilontarkan oleh mereka yang “concern” terhadap kajian fenomena komunikasi maupun mereka yang tertarik pada gejala-gejala keorganisasian. Dalam kenyataannya masalah komunikasi senantiasa muncul dalam proses organisasi. Bahkan boleh dikata, organisasi tanpa komunikasi ibarat sebuah mobil yang di dalamnya terdapat rangkaian alat-alat otomotif, yang terpaksa tidak berfungsi karena tidak adanya aliran fungsi antara satu bagian dengan bagian yang lain. Conection komunikasi merupakan sistem aliran yang menghubungkan dan membangkitkan kinerja antar bagian dalam organisasi sehingga menghasilkan sinergi.[3]
            Komunikasi menyediakan alalt-alat untuk pengambilan keputusan menerima umpan-balik dan mengoreksi tujuan serta prosedur organisasi. Apabila komunikasi berhenti maka aktivitas organisasi akan berhenti. Dengan demikian tinggalah kegiatan-kegiatan individu yang tidak terorganisasi.[4]


PENTINGNYA KOMUNIKASI KELUARGA

 

PENDAHULUAN


            Menarik sekali melihat beberapa contoh kasus yang dimulai tahun 2001, tentang permintaan atau bahkan tuntutan berbagai kelompok perempuan terkait jabatan sebagai menteri dalam kabinet di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri (Kompas, 31 Juli 2001). Pada tahun 2004, banyak kelompok perempuan menjelang pemilu meminta dipenuhi jatah 30 persen kursi perwakilan perempuan dari masing-masing partai politik saat pengajuan daftar anggota calon legislatif di dewan perwakilan rakyat. Walaupun dalam kenyataannya, setelah hasil pemilu diumumkan, ternyata hanya sekitar 11 persen saja kaum perempuan dari 550 anggota dewan yang dipastikan menduduki anggota parlemen tingkat nasional tersebut. Fenomena-fenomena ini bisa dirasakan sebagai sebuah gerakan pembaharuan yang dulu pada rejim Soeharto tidaklah mungkin dapat terjadi.
            Dirasakan atau tidak, sebenarnya gerakan berbagai kelompok perempuan ini termasuk dalam permasalahan gender sensitive. Tuntutan untuk menyetarakan kedudukan jender (laki-laki dan perempuan) telah menempati hati banyak kalangan kelompok lembaga swadaya masyarakat di Indonesia. Melihat fenomena ini, terdapat inti yang bisa diambil yaitu bahwa dalam setiap kasus mestinya “peran perempuan” haruslah menjadi agenda utama. Mohammad Sadli (dalam Istiyanto, 2002) menyimpulkan kaum perempuan sekarang ini bukanlah sekadar subsider atau warga kelas dua lagi. Kaum perempuan adalah sama kedudukannya sebagai warga negara dan masyarakat.
            Dengan contoh-contoh kasus di atas, dimana aktifis gerakan perempuan meminta berbagai kalangan bahkan pemerintah untuk menyetarakan kedudukannya, terlihat sebagai sesuatu harapan yang “seolah-olah ironis”, bila dibandingkan dengan kondisi kekinian yang ada. Bukan tidak mendukung, justru dibanding dengan bermacam situasi dan realitas permasalahan perempuan di Indonesia yang ada pada masyarakat, rasanya gerakan ini masih mendapat banyak tantangan yang berat. Selain kondisi kultural masyarakat yang masih didominasi garis patrilineal atau garis dari jalur laki-laki yang melihat berbagai permasalahan dari sisi pandang laki-laki (yang selalu diuntungkan), faktor pendidikan masyarakat luas yang masih rendah juga sangat berpengaruh dalam persoalan ini, sehingga perempuan selalu diimajinasikan sebagai orang belakang (dalam istilah Jawa sering disebut konco wingking atau teman kasur, dapur dan sumur) atau sekunder dan ada bermacam norma pengekang sebagai batasan di masyarakat yang jarang menempatkan kaum perempuan sebagai penentu sebuah keputusan penting.
            Belum lagi faktor eksternal yang terlihat menempatkan kaum perempuan sebagai “hanya sebuah objek” yang patut untuk terus dieksploitasi, seperti media massa baik elektronik dan cetak. Sebagai contoh, dalam memandang dan memperlakukan perempuan, televisi bahkan bersifat paradoks. Di satu pihak, media mempromosikan kemajuan-kemajuan dan prestasi-prestasi perempuan, misalnya memunculkannya sebagai tokoh atau sebagai “wanita karir” yang sukses dalam iklan dan program-program lainnya, namun pada saat yang sama, seperti contoh di banyak iklan, juga melemparkan mereka kembali pada keterbelakangan, dengan tetap menonjolkan keutamaan perempuan hanya sebagai makhluk yang dapat menarik perhatian lawan jenisnya (Cassata dan Asante dalam Istiyanto, 2002). Misal, dalam iklan Ifa Cosmetic yang sekarang ini gencar menerpa pemirsa televisi. Atau Iklan pencipta badan dan buah dada indah di koran-koran nasional.
Dari tayangan-tayangan yang ada di televisi misalnya, terlihat bahwa banyak acara televisi khususnya iklan merupakan pengabadian atau reproduksi dari penstereotipan kaum pria terhadap peran tradisional kaum perempuan. Pria dan perempuan digambarkan untuk selalu mempunyai kegiatan yang berbeda dan memutuskan hal-hal yang berbeda pula. Perempuan digambarkan sebagai manusia yang hanya selalu peduli dengan rumah tangga dan penampilan fisik mereka (yang berkulit dan bermuka putih, lembut, tidak gendut, tidak cerewet, rambut bagus dan tidak bau), sebaliknya kepedulian pria adalah pekerjaan, bisnis, urusan publik, olah raga, mobil, dsb. Ironisnya, banyak diantara kaum perempuan sendiri yang tidak menyadari adanya fenomena tersebut, bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang normal dan “memang sudah seharusnya begitu”.
Tentu saja, pekerjaan gerakan kaum perempuan Indonesia untuk memberdayakan dirinya dan menyetarakan kedudukannya mendapatkan tantangan yang tidak ringan. Berbicara dengan media massa berarti juga berbicara tentang pengaruh. Karena setiap media massa pasti mempunyai pengaruh yang berbeda. Tinggal efektifitasnyalah yang menentukan apakah pengaruhnya bisa memberikan hanya sekadar dampak bagi tingkat kognitif pemirsa, afektif atau bahkan behavioral (menjadi tindakan).
Maka menjadi sangat menarik membandingkan kasus nyata yang terjadi dengan seorang aktifis feminisme yang semula getol berbicara tentang keharusan  wanita untuk berkarir/bekerja bernama asli Chaerani (Anni Iwasaki) yang kemudian setelah menikah justru menyerukan wanita untuk bekerja di rumah saja. Bahkan dianjurkan agar para wanita yang bekerja di luar rumah, segera kembali menata rumahnya. Ini dibuktikan dari data penelitian di Jepang yang menyebutkan hampir sedikit wanita yang bekerja di luar mempunyai anak-anak yang lebih berkualitas baik secara intelektual dan kepribadian. Sebaliknya kemorosotan kualitas anak-anak justru terjadi bagi keluarga dimana kaum ibunya mengagungkan karir dengan bekerja di luar rumah seperti di Amerika (dalam Istiyanto, 2002)..
Maka dengan uraian di atas menunjukkan persoalan gender bisa berada dimana saja. Termasuk terkait dengan masalah ibu bekerja atau meniti karir yang sering disebut dengan wanita karir. Apakah hal tersebut mempengaruhi pola komunikasi keluarga atau bahkan mempengaruhi peningkatan prestasi belajar anak.



MAKALAH “KELOMPOK DAN TIM”

BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Kelompok dan Tim adalah dua konsep berbeda. Kelompok atau group didefinisikan sebagai dua atau lebih individu yang saling bergantung dan bekerjasama, yang secara bersama berupaya mencapai tujuan.
Kelompok kerja (work group) adalah kelompok yang para anggotanya saling berinteraksi terutama untuk saling berbagi informasi untuk membuat keputusan guna membantu satu sama lain dalam wilayah kewenangannya masing-masing. Kelompok kerja tidak memiliki kebutuhan ataupun kesempatan untuk terlibat di dalam kerja kolektif yang memerlukan upaya gabungan dari seluruh anggota tim. Akibatnya, kinerja mereka sekadar kumpulan kontribusi parsial dari seluruh individu anggota kelompok. Tidak ada sinergi positif yang menciptakan tingkat kinerja keseluruhan yang lebih besar ketimbang totalitas input yang mereka berikan. Sementara itu, Tim Kerja mengembangkan sinergi positif melalui upaya yang terkoordinasi. Upaya individual mereka menghasilkan suatu tingkat kinerja yang lebih besar ketimbang totalitas input para individunya.

1.2              Rumusan Masalah
1.   Apakah yang dimaksud dengan kelompok ?
2.   Apa sajakah  tipe – tipe kelompok ?
3.      Apa  sajakah syarat terbentuknya kelompok ?
4.      Dari manakah sumber kelompok berasal ?
5.      Apakah perbedaan kelompok dan tim ?

1.3              Tujuan
1.   Mampu untuk memahami apa yang dimaksud dengan kelompok
2.   Mampu untuk memahami tipe – tipe kelompok
3.   Mampu untuk memahami syarat terbentuknya kelompok
4.   Mampu untuk memahami sumber kelompok
5.   Mampu untuk memahami perbedaan kelompok dan tim