KATA SAMBUTAN BLOGGER TGL PEMBUATAN 01 MEI 2013

PERHATIAN BUAT TEMAN-TEMAN SEMUA YANG SELALU MENGUNJUNGI BLOGGER SAYA JIKA INGIN MAKALAHNYA LENGKAP DARI BAB I SAMPAI BAB III /IV SILAHKAN DI DOWNLOAD FILENYA , OK....

Thursday, November 28, 2013

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM I STRUKTUR EKOSISTEM HUTAN



LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI UMUM I
STRUKTUR EKOSISTEM HUTAN
(WAY KANAN)



Disusun oleh :
Nama                           : Ana Puspa Dewi
NPM                           : 09321091
Program Studi              : Pendidikan Biologi


LABORATURIUM MIPA
FAKULTAS KUGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
2009/2010
BAB I
PENDAHULUAN


1.      LATAR BELAKANG
            Semua organisme yang hidup dialam tidak dapat hidup sendiri melainkan harus selalu berinteraksi baik dengan alam (lingkungan). Organisme hidup dalam sebuah system ditopang oleh berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling berpengaruh, baik selara langsung maupun tidak langsung. Kehadupan semua jenis makhluk hidup sering mempengaruhi, sastra berinteraksi dengan alam membentuk kesatuan disebut ekosistem. Ekosistem juga menunjukkan adanya interaksi bolak balik antara makhluk hidup (biotic) dengan alam (abiotik).
            Ekosistem merupakan suatu kesatuan fungsional yang didalamnya mengalir energi dan makanan (nutrient) antara lingkungan fisik (lingkungan abiotik) dan lingkungan biotic. Lingkungan biotic dan lingkungan abiotik secara terus menerus memiliki dampak satu terhadap yang lainnya sehingga menghasilkan suatu hubungan ketergantungan yang kompleks. Hal tersebut dapat menciptakan keseimbangan alam dalam kehidupan adanya suatu faktor dapat menyebabkan tergantungnya keseimbangan ekosistem itu akan mengalami perubahan juga.
            Cabang biologi yang mempelajari ekosistem adalah ekologi, ekologi berasal dari bahasa yunani yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti liana. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi kita akan tahu bahwa makhluk hidup sebagai kesatuan atau system dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti diatas pertama (zologiawan jerman, 1834 – 914).
            Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasna ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya yaitu faktor abiotik dan biotic. Faktor abiotik antara lain suhu, kelembapan udara, kecepatan angina, intesitas ahaya, PH tanah dan tinggi sereseh (sampah daun). Faktor biotic adalah faktor hidup yang terdiri dari manusia hewan , tumbuhan dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkat-tingkatan organisasi makhluk hidup yaitu populasi, komunikasi dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu system yang menunjukkan kesatuan kompleks.
2.      Topik/ judul                        : Struktur ekosistem hutan
3.      tanggal pelaksanaan            :
4.      tujuan                             :  1.   Mengidentifikasi komponen-komponen ekosistem hutan taman nasional way kambas
                                                    2.  Mengukur karakteristik struktur ekosistem hutan  taman nasional way kambas










BAB II
KAJIAN PUTAKA

            Dalam tingkat organisasi kehidupan, ekosistem merupakan area alam yang berlangsung interaksi antara makhluk hidup dan tak hidup, sehingga terjadi pertukaran material antara biotik dan abiotik. Didalam suatu komunitas pada dasarnya tersusun atas komunitas-komunitas. Peristiwa aliran energi yang berlangsung didalam ekosistem lebih kompleks dibandingkan dengan komunitas. Hubungan yang kompleks antara spesies dalam ekosistem disebut dengan istilah jarring-jaring makanan. Selain itu, didalam suatu ekosistem juga berlangsung perputaran materi yang bersifat siklis. Ekosistem hutan merupakan bagian ekosistem terrestrial. Didalam suatu ekosistem hubungan antara organisme dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Aliran energi (arus energi) dapat berlangsung dengan berbagai jalan. Pengamatan suatu ekosiste, tidak mudah dilakukan, diperlukan waktu yang lama. Bahkan dikatakan mungkin tidak ada suatu ekosistem pun yang dapat dipahami seluruhnya. Untuk itu diperlukan penelitian terus-menerus.
(H. Agus Sujarwanto, M.Pd. Petunjuk praktikum biologi umum I)
            Ekosistem terbentuk karena adanya komunitas, suatu system yang hidup dan tumbuh sekaligus sebagai siste, dinamis.
            Soerianegara dan indrawan (1982) mengemukakan bahwa komunitas hutan merupakan suatu system yang hidup dan tumbuh karena komunitas itu terbentuk secara berangsur-angsur melalui beberapa tahap invansi oleh tumbuhan, adaptasi, dan stabilisi. Perubahan dalam komunitas selalu terjadi bahkan dalam komunitas hutan yang stabilpun selalu terjadi perubahan, misalnya pohon-pohon yang sudah tua mengalami tumbang dan mati. Terjadilah perbukaan atau tajuk hutan, sehingga sinar matahari dapat masuk ke lapisan tajuk bagian bawah maka anak pohon dapat tumbuh dengan baik sehingga menyusun lapisan tajuk atasnya kembali.
(Ir. Inriyanto. 982. ekologi hutan. 121).
Menurut Hanafiah, dkk (2005: 13) asosiasi cacing sebagai mikrofauna.
            Cacing merupakan habitat atau inang bagi mikrobia tertentu sehingga juga berfungsi sebagai penyebar mikrobia ini pada saat cacing bernigrasi. Bukti cacing sebagai penyebar ditemukan pada saat isolasi 0 spesies bakteri dari usus L. terrestis, ternyata tidak satupun yang berasal dari habitatnya. Peran cacing tanah sebagai penyebar fungsi atau bakteri juga dapat terjadi melalui mekanisme memakanya pada suatu tempat dan kemudian mengekspersikanya di tempat lain. Dalam asosiasi dengan mikroba, cacing tanah dapat berfungsi dalam menstimulasi perkembangana telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa cacing tanah merupakan mikrofauna tanah yang berperan penting sebagai penyelaras dan keberlangsungan ekosisitem yang sehat, baik bagi biota tanah maupun bagi hewan dan manusia secara umum peran cacing tanah telah terbukti baik sebagai broamelioron (jasat penyubur dan penyehat) tanah terutama dalam memperbaiki sifat-sifat tanah, seperti ketersedian hara, dekomposisi bahan organic, pelapukan mineral, struktur dan lain-lain sehingga mampu meningkatkan produktifitas tanah. Menurut euwise (1990: 249) hutan hujan tropika merupakan jenis hutan yang paling subur yang mempunyai suhu tinggi sekitar (25-26) dan serangan kengan kelembapan rata-rata sekitar 30m. pepohonan itu tergabung dengan tumbuhan terna, perambat, episit, pencekik, saprosit dan parasit. Salah satu corak yang menonjol adalah sebagian besar tumbuhannya mengandung kayu. Hanya beberap jenis eposit dan sebagian kecil tumbuhan teduhan saja yang bersifat terna.  Beberapa famili tumbuhan yang anggotanya dalam iklim sedang semuanya bersifat tera, misalnya rubiance dalam hutan hujan tropic mereka berupa pohon.
            Menurut cambell reaceae (25004:409) suatu ekosistem adalah tingkatan yang sangat luas dlam suatu wilayah tertentu dan factor abiotik yang membentuk lingkungan fisikanya. Energi mengalir melalui ekosistem dan zat kimia bersiklus ekosistem; proses yang saling berhubungan ini terjadi melalui transfer zat-zat nutien melalui hubungan saling makan memakan. Spesies dalam suatu ekosistem terbagi menjadi tingkat terostik (pengambilan makanan) yang berbeda-beda yang bergabung pada sumber nutrient utamanya oraganisme auto trost adalah produsen primer; organisme heterios adalah konsumen. Herbifora adalah konsumen primer yang terutama atau secara ekslusif memakan oragnisme autotros. 
b. DESKRIPSI DATA
            Dari data hasil penelitian yang kami lakukan, dapat dideskripsikan bahwa pada plot yang kami lakukan dapat di deskripsikan pada plot yang kami amati terdapat data abiotik, data biotic dan data pengurai. Pada data abiotik terdapat termratur udara, keepatan angina, inctensitas ahaya. PH tanah, serta tinggi serasah. Pada data abiotik ini temperature udara di luar hutan sebesar 75.60 C dan di dalam hutan 75.89. intensitas cahaya yang dapat menembus  hutan pada pukul 8.00-14.00 ph tanah pada hutan sekitar 7 dan tinggi seasah daun 7CM. selain dengan adanya data abiotik juga terdapat data biotic yang mencakup produsen, konsumen. Produsen pada data biotic, juga terdapat konsumen. Konsumen pada praktikum ini yang kami temukan ada 5 macam mahluk hidup yaitu burung, babi hutan, belalang, nyamuk.
            Pada praktikum kami selain terdapat data biotic dan data biotic juga adanya  data pengurai, pengurai ini berperan dangat penting untuk keseimbangan huta data pengurai tersebut antara lain yaitu cacing, semut, jamur dan rayap. Cacing hidup didalam tanah, berbentuk buat silinder dan panjang, bersifat resisten terhadap cahaya. Semut, hewan ini memmiliki kaki 6 yang kecil berwarna putih hidupnya menempel di pohon-pohon yang sudah mati dan rapuh. Yang terakhir yaitu rayap, rayap ini cara hidupnya tidka begitu jauh dengan semut yaitu selalu berkelompok, hidupnya pada kayu yang sudah busuk. Jumlah sangat banyak, biasanya didalam kerajaannya seekor raja (gundek) dan beberapa panglima.
c. PEMBAHASAN
            Dengan mengidentifikasi jenis hutan melalui cirri-ciri keadaan dan tanaman hutan merupakan salah satu jenis hutan hujan tropic. Hujan ini ditandai dengan suhu yang tinggi yaitu 28C-37C pada musim panas suhu mencapai diatas 93f atau di bawah 68 f. pada waktu musim dingin atau hujan setahun kemudian hutan ini memiliki kelembapan rata-rata 70%-93%.
            Di dalam ekosistem setiap organisme mempunyai kedudukan tugas dna fungsi tertentu. Fungsi atau kedudukan organisme didalam ekosistem disebut nisia. Berdasarkan nisianya organisme dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
1.      Produsen
            Yaitu organisme yang mampu menghasilkan zat makanan, contohnya : tumbuhan hijau atau klorofil, di dalam hutan way kanan tersebut yang termasuk produsen seperti: soka, sempur, gandaria, plangas dan lain-lain. Mereka di katakana produsen karena memiliki zat hijau daun dan klorofil, sehingga mereka bias membuat cadangan makanan untuk mahkluk hidup lain.
2.      konsumen
            Yaitu organisme yang tidak dapat menyusun zat makanan sendiri melainkan memakan dari organisme lain. Contohnya: tumbuhan, hewan atau sisa-sisa organisme lain dalam penelitian kami di hutan way kanan yang termasuk konsumen adalah: tupai, burung dan babui hutan. Di sini tupai memakan buah-buahan dan burung juga memakan buah dan biji-biji dari buah yang ada di dalam hutan way tersebut. Untuk babi hutan ia memakan rumput yang ada di lingkungan sekitar. Mereka semua (tupai, burung dan babi hutan) termasuk dalam konsumen I, karena mereka makan langsung mengambil dari produser, untuk konsumen II dan III, kelompok kami tidak menemukannya.
3.      Decomposer
            Yaitu komponen biotic yng berfungsi menguraikan bahan orgnik yng berasal dari organisme ynag telah mati taupun hasil pembuangan sisa pencernaan. Di sini dikawasan hutan way kanan yang termasuk dalam pengurai adalah : lumut, jamur, cacing dan rayap. Sebagai contoh : rayap menguraikan kayu yang rapuh, cacing menguraikan daun-daun yang berguguran serta sisa-sisa pencernaan atau hasil pembuangan dari sisa mahluk hidup agar menjadikan tanah semakin subur karena mengandung banyak oksigen.
Di daerah tropic yang lembab dan panas decomposer berjalan sangat cepat, bila dibarengi curah hujan yang tinggi, maka hasil dekomposisi akan cepat hilang di bawa air tanah ke tempat lain. Ini berarti suatu kebocoran ekosistem, kesuburan hilang padahal cadangan dalam tanah tidak ada.
            Tetapi ada bagian tanah lapisan atas tersebar rapat akar-akar halus atau bulu akar pohon-pohonan yang siap dengan cepat hara makanan dalam larutan dalam air tanah. Penyerapan ini juga dibantu dengan hadirnya jamur yang bersimbiosis dengan pohon dan membentuk mikrorisa pada akar. Tidak jarang pula akar bulu dan miselium (benang-benang badan jamur) menembus langsung pada daun-daun mati yang mengalami dekomposisi. Dengan cara itulah hara yang di lepas oleh proses dekoposisi dengan cepat di serap dan di kembalikan ke dalam tubuh pohon untuk di sintesis menjadi  bahan yan lebih kompleks dan membentuk tubuh pohon itu lagi. Dengan demikian kemungkinan hara makanan hilang kelinkungan lain dapat dicegah.
Energi yang diperlukan untuk semua tingkatan fotosintesis itu disediakan oleh sinar matahari yang dipakai oleh tumbuhan hijaudiam sintesis bahan organic tumbuhan hijau sebagai produsen membuat bahan organic. Produsen menyediakan makanan bagi konsumen primer (herbivore) dan herbivore menyediakan amakanan bagi koneumen skunder (karnivor). Perbedaan tingkat nutrisional dalam rantai makanan menuju kepada tingkatan-tingkatan trofis (trofisme). Dalam keperluannya akan energi tingkatan trofis tertentu bergantung pada tingkat sebelumnya, oleh sebab itu ada energi yang hilang dari tingkat satu ke tingkat berikutnya. Aktivitas metabolic semua organisme itu ditambah aksi kerja decomposer (pengurai) bangkai hewan membebaskan kembali senyawa-senyawa organic itu dipakai legi oleh produsen dalam membuat bahan organic baru, jadi dalam ekosistem itu terdapat siklus biokimia.

BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN
Setelah melakukan pengamatan yang dilakukan di hutan taman nasional way kembas dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen ekosistem hutan tersebut sangat bermacam-maca. Dapat dilihat dari jenis-jenis tumbuhan hewan dan lingkungannya yang berada didalamnya. Semua makhluk hidup tergantung dengan makhluk hidup lainnya. Ketergantungan ini menjadikan adanya pertukaran material antara biotic dan abiotik, sehingga terbentuknya tingkat-tingkat organisme kehidupan.
Hutan taman nasional way kambas merupakan hutan tropic jal ini di tandai dengan suhu yang tinggi yaitu 28C-37C pada musim panas jarang suhu mencapai diatas 93 f atau dibawah 68 f hutan hujan tropic ini hamper setiap tahun di guyur hujan.
B.     SARAN
a.       Agar sabar dalam membuat praktikum
b.      Bai asisten dosen harus selalu memberi bimbingan dan pengarahan untuk adik tingkatnya dengan tidak memilih-milij
c.       Bagi mahasiswa harus menambah kajian pustaka dan memperbanyak pembahasan.

DAFTAR PUSTAKA


Euwasie. 1990. Ekologi Tropika. Bandung : ITB
Indriyato. 1982. Ekologi Hutan. Jakarta: Buku Aksara
Sujarwanto, agus. 2008. Panduan Praktikum Biologi Umum 1. lampung: UM
Michel,Cambell reece. 2004. Biologi Umum. Jakarta: Erlangga.


LAMPIRAN
Laporan Sementara


 

LAPORAN KEGIATAN PRAKIKUM FIFIOLOGI TUMBUHAN DIFUSI DAN OSMOSIS



LAPORAN KEGIATAN PRAKIKUM
FIFIOLOGI TUMBUHAN
DIFUSI DAN OSMOSIS






Disusun oleh :
Nama               : RIANITA
NPM               : 07320794
Prodi                : Pendidikan Biologi
Semester          : VI (Empat)



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
TAHUN 2010
DIFUSI DAN OSMOSIS

I.               Acara                : Difusi dan osmosis
II.            Hari/tanggal     : Rabu, 14 April 2010
III.         Topik                : 1.  Difusi molekul k-pernanganat dalam air.
2.  Tekanan osmosis cairan sel
3.  Potensial air
IV.          Tujuan               : 1.  Untuk mengetahui difusi molekul k. permanganate                                   dalam air
2.  Untuk mengetahui tekanan osmosis cairan sel dalam   khoediscolor
3.  Untuk mengetahui potensial air pada kentang dan   mantang.  
V.             Dasar Teori      :
Menurut Kimball (1983:28) Menyatakan bahwa, osmosis adalah difusi dari tiap pelarut melalu suatu selaput yang permiabol secara diferensial. Pada osmosis yang bergerak melalui membrane semipermiabel ialah air dari larutan hepotesis 9konsentrasi air tinggi kekonsentrasi air rendah)kehipertonis (konsentasi air rendah ke konsentrasi at terlarut tinggi).
Konsentrasi merupakan konsentrasi pelarutnya yaitu air dan bukan konsentrasi dari zat yang larut (mplekul, ion) dalam air pertukaran antara suatu penamaan khusus yaitu osmosis. Difusi dapat terjadi karena gerakan acak kontinu yang menjadi ciri khas semua molekul yang tidak terikat hanya tergantung pada gradient kontraksi.
Menurut Campbell (1999 : 147) Disufi adalah perpindahan zat (gas, padat atau cair) tanpa melewati membrane, daridaerah yang konsetrasinya tinggi ke daerah yang konsentrasinya rendah sehingga konsetrasi zat menjadi sama. Difusi di sebut juga suatu substansi melintang membra biologis di sebut juga dengan transportasi aktif.
Menurut Frank (1995 : 27) struktur dinding sel dan mebra sel berbeda, membrane memungkinkan molekul air melintasi lebih cepat dari pada unsure terlarut, dinding sel primer biasanya sangat permeable terhadap keduanya memang membrane se tumbuhan memungkinkan berlangsungnya osmosis tetapi dinding sel yang tegar ituah yang menimbulkan tekanan dengan meningkatnya jumlah molekul di dalam sel, isi sel mulai menekan dinding sel, tekanan ini disebut tekanan turgar. Tekanan turgar inlah yang menyebabkan kekakuan pada bagian tanaman yang tidak berkaya seperti daun dan bunga.
Menurut DWIOJOSEPUTRO (1990 : 67). Difusi adlah penyebaran yang di maksut penyebaran di sini penyebaran molekul-molekul suatu zat, dan penyebaran itu di timbulkan oleh suatu gaya yang identil dengan energi kinetis tersebut. Baik gas, maupun zat cair dan zat padat, molekul-molekulnya ada kecenderungan utuk menyebar sampai terdapat suatu konsentrasi yang sama. Difusi juga akan di lakukan oleh molekul-molekul gula apabila kita mencampurkan suatu gua dengan air biasa, setelah kita beri waktu yang cukup lama, maka seluruh air akan berasa manis.  
VI.          Alat dan Bahan
  1. Aguadest, cawan Petri, kertas millimeter block, kristal k- permangat.
  2. Counter, daun Rhie discolor, larutan glukosa (0,6M, 0,20M, 0,14M), kaca objek, cover glass, mikroskop, pipet tetes, silet, tabung reaksi.
  3. Kentang, carc barer, larutan glukosa (0M; 0,4M, 0,6 M, 1M), metylen blue, mistar, pinset, silet, tabung bermulut besar, ubi jalar.
VII.       Cara Kerja  
Percobaan 1
  1. Menuang air sebanyak 15 ml kedalam cawan Petri.
  2. Melatakan cawan Petri pada tempat datar yang telah di alasi dengan kertas millimeter block.
  3. Memasukan satu kristak kecil k- permanganate kebagian tengah cawan perti.
  4. Memperhatikan gerak di fusi molekul k- permanganat dalam  air, dan ukuran diameter sebaran difusinya.
  5. Mencari tahu beberapa lama diameter 1 cm di capai dalam proses tersebut.
  6. Mengukur diameter setelah 5 dan 10 menit, kemudia perhatikan apakah kadar cepat perambatanya konstan atau tidak.
Percobaan 2
  1. Menyiapkan tabung reaksi, lalu mengisi dengan larutan glukosa kira-kira sepetiga bagiannya, satu tabung untuk satu jenis larutan.
  2. Menyayat lapisan epidermis yang berwarna dari daun Rhoe discolor dengan silet, usahakan selapis saja.
  3. Memeriksa terlebih dahulu di bawah mikroskop apakah sayutan sudah cuku baik untuk di gunakan.
  4. Jika cukup baik, tetesjan larutan glukosa tadi pada salah satu sisi cover glass, lalu hisap dengan tisu bagian ujung cover glass yang lain, agar larutan terhisap sempurna.
  5. Setelah 15 menit, periksa sayatan tadi di bawah mikroskop gunakan counter untuk membantu anda menghitung jumblah sel yang terplasmolisis.
  6. Carilah konsentrasi glukosa dimana 50% dari jumblah sel epidenmis tadi telah terplasmolisis. Keadaan ini disebut sebagai insipien plasmolisis.
Percobaan 3
  1. Tabung reaksi di isi dengan masing-masing larutan glukosa sebanyak 20 ml, sediakan juga sedikit larutan tersebut sebagai larutan asal untuk di gunakan pada tahap akhir.
  2. Membuat potongan kentang dan ubi jalar dengan carc borer atau silet dengan ukuran yang sama, lalu masukan ke dalam tabung reaksi sebanyak 5 potong.
  3. Tutup tabung reaksi biarkan 40 menit setiap 10 menit tabung di goyang perlahan untuk mempercepat keseimbangan.
  4. Setelah 40 menit potongan-potongan tadi di keluarkan dengan pinset.
  5. Larutan sisa perendaman kita tes dengan larutan asal yang konsentrasinya sama dan telah di warnai dengan metyle blue. Teteskan perlahan larutan pengetes tersebut di atas sisa larutan, lalu amati pergerakannya.
  6. Jika larutan pengetes jatuh kedasar larutan sisa berarti larutan sisa menjadi encer. Jika larutan pengetes di pantulkan keatas berarti larutan tadi menjadi lebih pekat dari semula. Carilah dimana larutan pengetes dalam kondisi melayang pada larutan sisa.
  7. Tentukan besarnya nilai potensial air jariangan tersebut.
VIII.    Data Hasil Pengamatan
Percobaan 1 : table difusi molekul k-permanganat dalam air









 



















Pecobaan 2
Tabel tekanan osismosis cairan sel :
No
Konsentrasi larutan glukosa
Keadaan awal (sebelum sintesis glukosa)
Setelah sintesis glukosa
Prosentase
1.
0,26 M
54 sel
30 sel terplasmolisis
55 %
2.
0,20 M
46 sel
23 sel terplasmolisis
47,8 %
3.
0,14 M
38 sel
10 sel terplasmelisis
26,3 %

Keterangan :
Pada larutan glukosa yang berkonsetrasi 0,20 M jumblah sel yang mengalami plasmolisasi / yang terplasmolisasi mendekati 50% dari jumblah sel pada keadaan awal di mana awalnya terdapat 46 sel yang mengandung pigmen antosianin setelah sintesis ada 22 sel yang terplasmolisis dan 24 sel yang masih menganding pigmen antosianin.
            Percobaan 3
Table potensial air
Konsentrasi larutan
Preparef
Encer
Pekat
1 M
Kentang

√
0,4
Kentang
√

0,6
Kentang
√

1 M
Mantang

√
0,4
Mantang

√
0,6
Mantang
√


IX.          Analisis Data
Percobaan 1
Dari data hasil pengamatan dapat di analisis sebagai berikut :
Pada menit 1 diameter yang ditempuh adalah 0,8cm, pada menit ke-5 diameternya naik menjadi 1,9 cm sedangkan pada enit ke-10 diameternya naik sebesar 2,8 cm jadi pada percobaan pertama semakin lama waktu yang di gunakan semakin tinggi juga perambatanya.
Perciobaan 2
Pada percobaan ini kita menggunakan bahan daun Rhoe discologi pada perlakuan pertama dengan konsentrasi larutan glukosa 0,26 M, kemudian  keadaan awal / sebelum di tetesi glukosa ada 54 sel, kemdian setelah di beri perakuan dengan di tetesi larutan glukosa jumbelah sel menjadi 30 sel karena sudah terplamolisis dengan presentase 55%.
Pada perlakuan ke dua dengan konsentrasi larutan glukosa 0,20 M, keadaan awal/sebelum di tetesi glukosa berjumblah 46 sel setelah di tetesi larutan glukosa jumblah sel menjadi 22 sel terplasmolisis dengan prosentase 47,8%. Pelakuan ke tiga konsentrasi larutan glukosa 0,14 M, dengan keadaan awal / sebelum di tetesi larutan glukosa berjumblah 38 sel, kemudian setelah di tetesi larutan glukosa jumblah selnya menjadi 10 sel terplasmolisasi dengan prosentase 26,3%.
Percobaan 3
Dari percobaan ke tiga dapat di analisis, pada perparet potongan kentang yang di rendam pada larutan glukosa selama 83 menit dengan menggunakan konsentrasi 1 M, 0,4 M, 0,6 M. Kemudian air sisa rendaman kentang kemduian di tetesi larutan metylen blue, pada air sisa perendaman kentang dengan konsentrasi larutan 1 M yang telah di tetesi metylen blue ternyata larutan pengtesnya pekat, sedangkan pada konsentrasi larutan 0,4 dan 0,6 yang telah di tetesi metylen blue ternyata larutanpergeseran pengetesnya jatuh (encer).
Pada percobaan dengan menggunakan mantang dimana konsentrasinya sama dengan kentang yaitu 1 M, 0,4 M, 0,6 M, dengan percobaan awal juga sama dengan merendam mantang dengan telah di tetesi metylrn blue dengan konsentrasi 1 M penggeseran larutan pengetesnya pekat (jatuh kebawah lalu memantul keatas ) dan itu sama terjadi pada konsentrasi 0,4 penggerseran lalu Tanya paket (jatuh ke bawah lalu memantul keatas) sedangkan pada konsentrasi 0,6 M pergeseran larutan pengetesanya jatuh encer (jatuh kebawah dan menyebar).   

X.             Pembahasan
Percobaan 1
Pada percobaan pertama bahan yang di gunakan aquades dan kristal k-permanganat. Pada umumnya, air dan bahan yang larut di dalamnya, masuk dan keluar sel pergerakan dari satu tempat ke tempat lain, akibat aktivitas kinetik acak atau gerak termal dari maolekul atau ion di sebut difusi. Pada percobaan yang telah di lakukan kadar cepat rambatnya. Konstan karena pada setiap menit kecepatan rambatnya selalu teratur ketika zat warna mulai larut, air di dekat kristal k- permanganat berwarna sangat pekat, tapi pada jarak tertentu tidak ada warna. Pada menit pertama jarak perambatanya adalah 0,8 cm, 5 menit kedua jaraknya 1,9 cm dan pada 10 menit ketiga mencapai 2,8 cm. pada percobaan ini penyebaran berlangsung lambat.
Percobaan 2
Pada percobaan ke dua diketahui jumblah sel pada daun Rhoe disodor sebanyak 54 sel setelah di tetesi larutan glukosa 0,26 M jumblah sel yang terplasmolisis adalah 30 sel dengan prosentase 55 %, pada sayatan kedua pada daun Rhoe discolor di temukan 6 sel setelah di tetesi larutan glukosa 0,20 m selnya menjadi 22 sel terplasmolisis dengan prosentase 47,8% sedangkanpada sayatan ke tiga selnya sebanyak 38 sel, setelah di tetesi larutan glukosa 0,14 M selnya menjadi 10 sel terplasmolisis dengan prosentase 26,3% proses ini dinamakan peristiwa plasmolisis. Sedangkan palsmolisis itu sendiri adalah lepasnya membrane sel dari dinding sel. Sehingga cairan yang berada di dalam sel keluar dari sel. Tanda-tanda yang terlihat pada sel yang mengalami plasmolisis adalah menghilangnya warna yang ada di dalam sel dan mengerutnya pinggiran membrane sel kea rah dalam. Prinsip yang di gunakan adalah peristiwa osmosis.
Percobaan 3  
Pada percobaan ke tiga, bahan yang di gunakan adalah kentang, mantang dan metylen blue, pada percobaan dengan menggunakan kentang di tambah dengan arutan glukosa yang kadarnya 1 M, sisa larutan rendaman kentang setelah di beri larutan mertylen blue larutan menjadi pekat dan pada air sisa rendaman kentang dengan konsentrasi larutan 0,4 setelah di beri metylen blue larutan menjadi encer itu pun terjadi pada larutan rendaman kentang dengan konsentrasi larutan 0,6. sedangkan pada percobaan mantang dengan konsentrasi larutan 1 M, larutan menjadi pekat dan sedangkan pada arutan konsentasi 0,6 larutan menjadi encer.
Peristiwa ini di sebut pontesial air. Betapa encernya larutan sekalipun larutan itu tetap mempunyai suatu nilai osmosis atau dengan kata lain, nilai osmosis larutan itu tidak akan menjadi nol. 
XI.          Kesimpulan
Dari kegiatan praktikum yang telah di lakukan dapat di simpulkan bahwa. Difusi ialah penyebaran sedangkan penyebaran itu sendiri di timbulkan oleh suatu gaya yang identik dengan energi kinetis. Dimana pada difusi molekul k- permanganate penyebarabya sangat lambat.
Pada osmosis naik atau turunya tekanan di akibatkan karena potensial kimia. Potensial air merupakan kemapuan untuk melakukan perbandingan antara kentang dan mantang.
XII.       Daftar Pustaka
Combell, dkk. 199. Biologi Edisi kelima Jilid I, Jakarta : Erlangga
Dwinjoseputo. 1990. Pengatar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Kimball, Jhon W, dkk. 1983. Biologi Jilid I. Jakarta : Erlangga
Salisbury, Frank B, dkk. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jidil I, Bandung : ITB